Where Everything Begin…

“Love Hurts.” -Nazareth

Aku jatuh cinta pada tatapan dan matanya yang hangat itu.

Kami bertemu lagi. Kali ini, di sebuah ekstrakurikuler di mana kita harus menulis kenangan kita. Aku menulis sebuah kenangan menyakitkan–bukan tentang cinta, tentu.

Di tengah aku menulis, ia masuk dan berjalan dengan gayanya yang unik, menurutku, Ia duduk di bangku depan. Aku meliriknya sekilas dan ia balas melirikku. Aku merasa sedikit kikuk kemudian melanjutkan karanganku.

Aku melihatnya membaca karanganku sekilas dan tersenyum lagi padaku. Mata kami kembali bertemu.

Manik matamu memberikan kehangatan yang menjalar di tubuhku.

Kemudian, beberapa hari selanjutnya, aku mengirimkan sebuah pesan lewat media sosial kepadanya. Ia mengingatku pernah menjadi MC acara sebelumnya. Aku tersenyum kecil, mengingat bagaimana saat awal aku bertemu dengannya dan menjadi sedikit tertarik padanya. Pada hari-hari berikutnya, kami menjadi dekat dan aku mulai benar-benar jatuh cinta padanya.

Hingga saat itu ia tiba-tiba menjatuhkanku begitu saja.